excellentfamily
Posts by :
Healing Your Family Tree
- Pasangan akan menghadapi tekanan-tekanan baru, yang bisa berasal dari luar pernikahan, dari dalam pernikahan, atau bahkan dari hal-hal yang sudah lama terpendam jauh di dalam diri mereka masing-masing. Ditambah tuntutan untuk penyesuaian diri agar hidup harmonis, untuk memberi dukungan satu sama lain, menyeimbangkan tugas-tugas karier, membesarkan anak-anak, semuanya itu menjadi kompleks.
- Banyak pasangan terkejut ketika mereka mendapati bahwa konflik lama yang belum terselesaikan dengan orangtua atau saudara kandung akan muncul ke permukaan dalam hubungan pernikahan.
- Pola-pola perilaku yang negatif dari orangtua tanpa sadar diwariskan dan terulang pada kehidupan keluarga pasangan baru.
- Abraham dan Sara lebih menyayangi Ishak daripada Ismael.
Ishak lebih sayang kepada Esau … tetapi Ribka lebih sayang kepada Yakub (Kejadian 25:28) - Yakub lebih mengasihi Yusuf dibandingkan dengan saudara-saudaranya (Kejadian 37:3)
- Ismael dan Hagar diusir oleh Sara karena cemburu.
- Yakub disuruh pergi oleh ibunya karena khawatir Esau akan membunuhnya.
- Yusuf dijual menjadi budak karena kebencian.
- Jenis informasi yang biasa terdapat pada sebuah pohon keluarga : nama, tanggal lahir, pernikahan, perceraian, kematian dan hal-hal sejenisnya.
- Uraian singkat mengenai anggota keluarga, kekuatan dan kelemahan tertentu yang dimiliki.
- Aspek-aspek lain yang dapat memberikan pengaruh terus-menerus selama bertahun-tahun. Sebelum kita memutuskan pola masa lalu, kita harus mengerti seperti apa pola-pola tersebut.
- Kita memperoleh wawasan bagaimana persoalan-persoalan pribadi ataupun pernikahan ditangani dalam keluarga kita.
- Kita dapat mengenal, apa saja peranan setiap orang dalam keluarga masing-masing.
- Dapat mengungkapkan aturan-aturan yang tidak terucapkan yang telah membentuk kita selama kita dibesarkan.
Mulailah mengingat semua yang dapat anda ingat tentang asal-usul keluarga. Setidaknya buat untuk dua generasi dalam keluarga anda. Untuk mendapatkan informasi, dapat berdiskusi dengan pasangan, bertanya kepada kakek, nenek, paman, sepupu.
2. Membangun genogram.
Menggunakan selembar kertas, gambarlah genogram anda dan pasangan beserta simbol-simbolnya.
Berikut ini adalah sebuah contoh genogram :
3. Lengkapi kombinasi genogram.
- Tambahkan nama dan tambahkan tanggal-tanggal penting yang berkaitan dengan mereka.
- Tambahkan peristiwa-peristiwa lain atau persoalan-persoalan yang pernah terjadi seperti konflik, narkoba, mabuk, alkoholisme, perceraian, perselingkuhan, kematian, bunuh diri, sakit jiwa, dsb …. semua disertai dengan gambaran singkat tentang seperti apa orang tersebut dan bagaimana hubungan mereka dengan anggota keluarga lainnya.
- Perhatikan kepada siapa mereka dekat dan siapa saja yang mereka hindari dan dengan siapa mereka sering konflik (garis tebal untuk hubungan yang dekat, garis putus-putus untuk yang dihindari).
- Perhatikan pola apa yang berulang di dalam dan antar setiap generasi Dengan membuat genogram, kita jadi lebih memahami apa saja yang menjadi “dosa leluhur” dari generasi ke generasi. Tujuannya bukan untuk menyalahkan siapa pun, tapi untuk dapat mengambil tanggung jawab penuh terhadap diri kita sendiri kemudian terbebas dari pola keturunan ini. Begitu kita dapat mengenali pola tersebut, kita dapat menemukan kebebasan melalui doa dan pengampunan.
- Kita mulai menyadari adanya pola-pola dan perilaku-perilaku yang tidak ingin kita ulangi dalam pernikahan kita atau dalam hubungan keluarga kita (self awareness). Kita perlu jujur terhadap apa yang terjadi pada diri kita. Knowledge of self = honesty with self.
- Kita perlu berbicara dengan orang yang kita percayai untuk mengungkapkan /mengeluarkan semua emosi negatif yang telah ditutupi bertahun-tahun yang kini muncul ke permukaan.
- Berdamai dengan masa lalu dan mengampuni. Saat berhadapan dengan persoalan masa lalu, satu-satunya cara memecahkannya adalah melalui pengampunan. Seperti cara Allah terhadap kita, yaitu mengampuni masa lalu kita. Jika kita tidak pernah memaafkan masa lalu kita, maka masa lalu tersebut akan selalu mencari celah untuk mengungkapkan dirinya di masa kini.
- Rekonsiliasi (jika dapat dilakukan).
- Apa saja hal-hal baik yang anda amati dalam pernikahan orangtua anda yang ingin anda teladani dalam pernikahan anda ?
- Dalam hal apa saja anda ingin pernikahan anda kelak berbeda dengan orangtua anda? Adakah dari hal-hal tersebut yang menurut anda merupakan pola keturunan ?
(Sumber : Perilaku Buruk yang Diturunkan – David & Jan Stoop)
Aku Ingin Seperti Ayah
Berikut ini adalah sharing dari Facebook seorang teman, yang dapat menjadi sebuah refleksi bagi kita semua :
Inilah kira-kira kisah mereka…….
Salah satu dari mereka kebetulan akan ke Bali untuk urusan bisnis, dan minta tolong diatur tiket kepulangannya melalui Surabaya karena akan singgah ke rumah anaknya yang bekerja di sana. Di situlah awal pembicaraan dimulai.
Ia mengeluh, “Susah anak saya ini, masak sih untuk bertemu bapaknya saja sulitnya bukan main.” “Kalau saya telepon dulu, pasti nanti dia akan berkata jangan datang sekarang karena masih banyak urusan. Lebih baik datang saja tiba-tiba, yang penting saya bisa lihat cucu.”
Kemudian itu ditimpali oleh rekan yang lain. “Kalau anda jarang bertemu dengan anak karena beda kota, itu masih dapat dimengerti,” katanya. “Anak saya yang tinggal satu kota saja, harus pakai perjanjian segala kalau ingin bertemu.”
“Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, karena kedua anak saya jarang berkunjung, paling-paling hanya telepon.”
Ada lagi yang berbagi kesedihannya, ketika ia dan istrinya mengengok anak laki-lakinya, yang istrinya baru melahirkan di salah satu kota di Amerika.
Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak sudah bertanya, “Kapan Ayah dan Ibu kembali ke Indonesia?” “Bayangkan! Kami menempuh perjalanan hampir dua hari, belum sempat istirahat sudah ditanya kapan pulang.”
Apa yang digambarkan adalah rasa kegetiran dan kesepian yang tengah melanda mereka di hari tua. Padahal mereka adalah para profesional yang begitu berhasil dalam kariernya.
Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, “Apakah suatu saat kita juga akan mengalami hidup seperti mereka?”
Untuk menjawab itu, marilah kita melihat syair lagu berjudul Cat’s In the Cradle karya Harry Chapin.
Beberapa cuplikan syair tersebut diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia agar relevan untuk konteks Indonesia.
CAT’s IN THE CRADLE (karya Harry Chapin)
Namun aku tahu betul ia pernah berkata, “Aku akan menjadi seperti Ayah kelak.”
“Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak.”
“Ayah, jam berapa nanti pulang?”
“Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama.”
Ketika saat anakku ulang tahun yang kesepuluh; Ia berkata, “Terima kasih atas hadiah bolanya Ayah, wah … kita bisa main bola bersama. Ajari aku bagaimana cara melempar bola.”
“Tentu saja ‘Nak, tetapi jangan sekarang, Ayah banyak pekerjaan sekarang.”
Ia hanya berkata, “Oh ….”
Ia melangkah pergi, tetapi senyumnya tidak hilang, seraya berkata, “Aku akan seperti ayahku.”
“Ya, betul aku akan sepertinya.”
“Ayah, jam berapa nanti pulang?”
“Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama.”
Suatu saat anakku pulang ke rumah dari kuliah; Begitu gagahnya ia, dan aku memanggilnya, “Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar dengan Ayah.”
Dia menengok sebentar sambil tersenyum, “Ayah, yang aku perlu sekarang adalah meminjam mobil, mana kuncinya?”
“Sampai bertemu nanti Ayah, aku ada janji dengan kawan.”
“Nak, jam berapa nanti pulang?”
“Aku tak tahu ‘Yah, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama.”
Aku sudah lama pensiun, dan anakku sudah lama pergi dari rumah. Suatu saat aku meneleponnya.
“Aku ingin bertemu denganmu, Nak.”
Ia bilang, “Tentu saja aku senang bertemu Ayah, tetapi sekarang aku tidak ada waktu. Ayah tahu, pekerjaanku begitu menyita waktu, dan anak-anak sekarang sedang flu. Tetapi senang bisa berbicara dengan Ayah, betul aku senang mendengar suara Ayah.”
Ketika ia menutup teleponnya, aku sekarang menyadari; dia tumbuh besar persis seperti aku; Ya betul, ternyata anakku persis seperti aku!
Women of Excellence
Parents Club
agar mengerti bagaimana menjadi orangtua yang sesuai kehendak Tuhan,
agar para orangtua memahami langkah-langkah mendidik anak sesuai dengan
prinsip kebenaran Firman Tuhan.
Topik-topik yang akan dibahas antara lain :
membesarkan anak sesuai usia, pendidikan seks, pendidikan karakter anak,
mengenal anak & karakteristiknya, dunia anak, masalah-masalah anak,
dan topik lainnya sesuai kebutuhan.
Hal-hal yang dilakukan dalam Parents Discussion Group adalah :
- Tanyajawab mengenai topik yang dibahas dalam Mini Seminar.
- Mendiskusikan langkah-langkah praktis untuk menerapkan topik yang telah didapatkan dalam Mini Seminar.
- Saling berbagi, mendoakan dan menguatkan sesama orangtua.
Discussion Group ini akan dibagi dalam kelompok yang dipimpin oleh fasilitator.
Kami menyediakan sarana konseling untuk individu, konseling keluarga & konseling anak yang sedang mengalami :
- Masalah dalam hubungan orangtua – anak.
- Kesulitan orangtua dalam mendidik anak.
- Masalah emosional anak dan remaja.
- Anda akan mendapatkan bantuan secara khusus dari konselor yang terlatih.
- Kerahasiaan anda terjaga.
15.30 – 17.00
WTC Building – Serpong
Counseling Ministry
through challenging times in their lives …
… To be equipped with Counseling Skill …
Konseling Pribadi
Konseling Karir
Konseling Paska Traumatik
Kenapa sih … selingkuh ??
Ada seorang seorang suami berselingkuh, dan sang istri menyalahkan suaminya yang tidak setia? Mungkin kita sebagai wanita akan dengan mudah menghakimi bahwa si suami yang tidak setia dan ga tau diri.
Tapi, ketika suaminya mengikuti session konseling, dan menceritakan apa yang mendorong dia untuk mencari kenyamanan di pelukan wanita lain? Ternyata sang suami berkata bahwa istrinya di rumah tidak pernah memasak makanan untuk dirinya dan istrinya sulit untuk diajak ngobrol. Kalo ngobrol, istrinya suka bersikap ‘sok pintar’. Dan istrinya juga sering ngomel-ngomel di rumah, sehingga suami jadi pusing kalo ketemu istrinya di rumah. Harapannya pulang ke rumah adalah merasakan kenyamanan di rumah, tapi yang dihadapi adalah istri yang memusingkan. Kelihatannya hal sepele? Tapi, bukankah hal ini sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga?
Hal lain lagi, ada seorang istri berselingkuh. Waktu ditanya, apa yang menyebabkannya mencari pria lain? Jawabnya, “Suami saya terlalu otoriter dan berkuasa. Maunya menang sendiri dan ga pernah mengerti perasaan saya. Bahkan kalau diajak ngobrol, sikapnya dingin. Berbeda dengan teman baru saya, dia warm sekali.”
Suatu hari, saya pernah sharing dengan seorang istri Hamba Tuhan yang dipakai Tuhan secara luar biasa. Saat itu, saya memang sedang sibuk mengurus anak saya yang masih balita. Nah, istri Hamba Tuhan tersebut menasehati saya, “Kamu jangan terlalu sibuk dengan mengurus anak-anak kamu, sehingga melalaikan suamimu. Jangan salahkan dia kalau dia berpaling?” “Wah…ga mungkin suami saya berpaling kepada wanita lain. Suami saya pasti ngerti bahwa mengurus anak itu memang repot banget, dan suami saya mandiri kog. Satu hal lagi, suami saya itu seorang hamba Tuhan yang sangat cinta Tuhan, mana mungkin dia aneh-aneh !” jawab saya dengan pedenya.
Ternyata beliau menghentakkan saya dengan jawabannya, “Eh…walaupun begitu, kamu harus sadar bahwa suamimu itu bukan malaikat. Dia tetap manusia.” Dan, saya pun akhirnya didoakan agar saya sadar bahwa suami saya bukan seorang malaikat. Saya sangat disadarkan bahwa keintiman suami istri perlu dipelihara agar terus bertumbuh. Saya sangat setuju bahwa keintiman suami istri adalah benteng dan pagar terhadap perselingkuhan.
Temans, seringkali ketika terjadi perselingkuhan, kita lebih menyalahkan orang yang melakukan perselingkuhan. Tapi, marilah pasangan korban perselingkuhan juga menginterospeksi diri. Dan lebih tepatnya, keduanya saling interospeksi diri.
Jika ditelusuri, penyebabnya adalah suami/istri sudah mulai merasa tidak puas dengan pasangannya yang kemudian berkembang jadi ketidak cocokan. Kalau sudah begitu, ada dua hal yang akan terjadi. Yang pertama, akan mudah muncul konflik yang umumnya tak terselesaikan dengan tuntas. Atau yang kedua, memilih menghindari konflik rumah tangga dan menyimpan atau menekan masalah yang ada ke dalam hati. Perlu diketahui, keduanya bukan merupakan jalan keluar yang baik.
Dengan kondisi demikian, maka pasangan akan merasa tidak nyaman, dan mulai mencari jalan keluar di tempat lain. Maka……., ketika muncul orang ketiga….. ini menjadi sebuah celah. Sosok orang ketiga ini bisa siapa saja, bisa sahabat, teman sekantor, atau yang lagi menjamur adalah teman-teman di dunia maya. Akhirnya… muncullah perselingkuhan…..

Banyak kegiatan iseng atau tadinya biasa-biasa saja yang akhirnya membuat suami/istri tega mengkhianati pasangan dengan melakukan perselingkuhan.
Apa saja sih ?
1. Chatting
Ngobrol di dunia maya memang mengasyikkan dan membuat orang lupa waktu. Masing-masing bisa mengungkapkan perasaan secara blak-blakan. Dari chatting biasanya lantas berlanjut dengan kopi darat atau janjian ketemu. Jika keduanya merasa tertarik, pertemuan kedua dan selanjutnya lalu direncanakan, sehingga hubungan makin intensif yang akhirnya berujung pada perselingkuhan.
2. SMS
Awalnya mungkin sekedar SMS nyasar atau iseng yang masuk ke Hp. Tapi karena terus ditanggapi dan dibalas, akhirnya jadi keterusan. Tak heran lama-kelamaan aktivitas yang satu ini jadi ajang untuk saling mengirim SMS mesra dan berbunga-bunga. Kalau sudah begini, perselingkuhan hanya tinggal beberapa langkah lagi. Untuk menghindarinya jangan sekali-kali membalas/menanggapi SMS nyasar atau iseng seperti itu. Abaikan saja yang akhirnya akan membuat si pengirim bosan atau kehabisan pulsa.
3. Nebeng kendaraan atau makan siang bersama
Ada pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino yang artinya tumbuh benih-benih asmara lantaran seringnya si pria dan wanita bertemu. Untuk mengantisipasinya, buat batasan, bahwa orang yang banyak bersama itu hanyalah sebatas teman kerja yang menuntut hubungan profesional.
4. Curhat
Siapa sih yang ga betah ngobrol dengan orang yang selalu nyambung? Bisa ditebak bila lama-kelamaan keduanya akan saling mencurahkan isi hati yang akhirnya mengarah kepada kisah percintaan. Oleh karena itu, jangan gampang curhat kepada lawan jenis agar tak terlibat dalam perselingkuhan. Terlebih, bila rumah tangga sedang dilanda masalah.
5. Dinas luar kota
Memang tidak bisa disalahkan bila ketimbang berdiam diri sepanjang perjalanan yang menyita waktu sekian jam, kita berbincang dengan orang asing yang duduk bersebelahan. Kalau orang tersebut ternyata asyik diajak ngobrol, bukan tak mungkin hubungan akan terus berlanjut meski sudah sampai di tempat tujuan. Mengatasinya, tak ada jalan lain kecuali kembali memegang teguh nilai-nilai moral yang diyakini selama ini. Dunia di luar rumah memang penuh godaan.
6. Reuni
Kita memang patut berterima kasih kepada dunia teknologi yang membuat kita terhubung kembali dengan sahabat lama kita. Entah teman SD, SMP bahkan mungkin mantan pacar kita di masa lalu. Dan berlanjut dengan maraknya reuni plus kumpul-kumpul dengan teman lama. Sayangnya, munculnya reuni juga diikuti dengan munculnya “CLBK”, yaitu “cinta lama bersemi kembali”. Bahkan, mulai teringat kembali perasaan berbunga–bunga ketika bersama sang mantan yang tadinya telah terlupakan. Akhirnya, terbukalah celah untuk merajut kembali hubungan lama yang terputus dan akhirnya berujung kepada perselingkuhan.
Sebenarnya, pertemanan dengan lawan jenis tetap bisa terjalin tanpa harus mengarah pada perselingkuhan.
Nah, berikut ini sejumlah tips yang bisa dijadikan pegangan agar tak terjerembab dalam kubangan perselingkuhan :
1. Jaga keharmonisan rumah tangga agar suami istri senantiasa memiliki hubungan emosional yang kuat. Bersikaplah saling terbuka dan selalu jalin keintiman serta komunikasi agar kehangatan hubungan tetap terpelihara.
2. Batasi hubungan dengan lawan jenis kalau memang sudah punya pasangan hidup. Bukankah tetap ada batasan tertentu yang mesti diperhatikan ketika seseorang sudah menjadi suami/istri? Meski terbilang sangat akrab, tetap bedakan hubungan pertemanan dengan pasangan hidup yang memang terikat secara emosional dan dalam tingkat yang paling mendalam.
3. Jika ada seseorang yang memperhatikan gelagat naksir, jangan malah merasa bangga. Segera komunikasikan dengannya dan tegas-tegas katakan status kita yang sudah menjadi istri/suami.
4. Pelihara hubungan pribadi dengan Tuhan, dan keteguhan hati dalam memegang nilai-nilai Firman Tuhan. Karena inilah benteng utama yang mampu mencegah kita terlibat dalam perselingkuhan. Satu hal, jangan menjauh dari komunitas orang-orang percaya, di mana kita bisa saling menguatkan dan mendoakan untuk terus berjalan dalam Firman Tuhan.
5. Jika merasa membutuhkan orang ketiga untuk membantu masalah dalam rumah tangga, jangan segan-segan untuk melakukan konseling dengan pemimpin rohani atau konselor rohani. Daripada menyimpan masalah sendirian dan mencari jalan keluar dengan cara yang bisa menyesatkan.
Tuhan Yesus memberkati !!
(by lie)
Apabila membutuhkan pelayanan konseling keluarga, dapat menghubungi kami via email.
-EFC-
(Beberapa tulisan bersumber dari Nakita)




















