Parenting
Tradisi & Museum Kenangan
- Bersama anak membuat hiasan Natal dan mendekorasi rumah.
- Membuat foto khusus Natal, yang bisa dikenang setiap tahun. Cara ini bisa digunakan untuk membangkitkan kembali memori kitaa dan keluarga. Caranya, berfoto-lah bersama seluruh keluarga di satu sisi rumah yang menyenangkan dengan pose yang lucu dan menggambarkan semangat Natal.
- Membuat kartu berisi ayat-ayat kelahiran Kristus dan digantung di pintu kamar untuk mengenang kasih Kristus.
- Membaca cerita Natal bersama dan merenungkan pengorbanan Tuhan Yesus.
- Menonton film Natal bersama.
- Mengadakan ucapan syukur di malam Natal dan membuat semboyan untuk hari berikutnya, misalnya : “Setiap hari adalah karunia Tuhan.”
- Membuat kue sendiri bersama anak-anak. Ajak anak-anak untuk ikut menghias kue-kuenya.
- Libatkan anak menyiapkan makan malam keluarga yang berbeda.
- Buatlah acara bertukar kado bersama.
- Tukar kado sekarang ini sudah banyak dilupakan orang-orang. Nah, tidak ada salahnya untuk menghidupkan kembali tradisi ini. Tak harus mahal, kita juga bisa membuat kartu Natal atau hadiah Natal kita sendiri untuk anggota keluarga
- Mengirim kartu ucapan Natal kepada kerabat dan teman-teman.
- Mengadakan kunjungan anggota keluarga lain.
- Ketika keluarga berkumpul, ambilah momen dengan video di mana setiap anggota menceritakan kesan-kesan di hari Natal tersebut. Saat keluarga menonton film pendek buatan kita sendiri, pasti akan jadi momen yang sangat menyenangkan.
- Jalan-jalan atau piknik keluarga.
Para orangtua, hargailah setiap momen yang bisa kita nikmati bersama anak-anak.
Kekerasan Anak & TV
excellentfamily Counseling, Parenting 0
Hal ini pernah dibuktikan di Amerika Serikat, di mana hasil penelitian menunjukkan bahwa karena terlalu banyak menonton TV, anak dapat jadi beranggapan bahwa kekerasan adalah hal yang wajar, dan bagian dari hidup sehari-hari. Dan sebagai akibatnya, mereka menjadi lebih agresif dan memiliki kecenderungan untuk memecahkan tiap persoalan dengan jalan kekerasan terhadap orang lain.
Father & Son
Seorang ayah memikul tanggungjawab untuk membesarkan dan secara khusus memberikan bekal kepada anak laki-laki agar mereka bertumbuh besar menjadi seorang pria dewasa yang memang kita harapkan, khususnya yang Tuhan harapkan.
Mengasihi Anak dengan Bahasa Cinta
Menurut Dr. Gary Chapman, ada lima cara anak dalam mengutarakan serta memahami cinta, yaitu : kata penguatan, saat yang mengesankan, menerima hadiah, tindakan melayani & sentuhan fisik.
Mother & Son
Father & Daughter
Jadi, para ayah memegang kunci hubungan-hubungan yang akan anak perempuan miliki di masa mendatang.
Sedangkan peran ibu adalah sebagai teladan di mana anak perempuan perlu melihat karakter dan kefeminiman wanita.
Anak Laki vs Anak Perempuan
Perbedaan jenis kelamin anak-anak berperan sangat penting dalam pola mengasuh anak. Apabila kita memiliki sepasang anak putra dan putri, ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita dalam membesarkan mereka.
Sebagai orangtua, penting untuk memahami perbedaan anak-anak kita, bukannya mencoba untuk menerapkan aturan yang sama dalam membesarkan anak-anak kita.
|
Anak Perempuan
|
Anak Laki-laki
|
|
– Pribadi yang lebih sosial.
– Dari kata yang diucapkan, mulai menyempurnakan seni berkomunikasi.
– Mengembangkan ketrampilan membangun hubungan.
– Membangun dunia di dalam diri mereka.
|
– Memusatkan perhatian pada lingkungan fisik.
– Mengembangkan ketrampilan fisik.
– Membangun dunia luar.
|
|
Anak
|
Ayah
|
Ibu
|
|
Anak Laki-laki
|
– Melihat karakter kepriaan di dalam teladan ayah.
|
– Mempelajari kelembahlembutan, kasih sayang dan ketrampilan berkomunikasi melalui ibu.
– Ibu mengajar anak laki untuk menghargai & menghormati perbedaan-perbedaan yang diciptakan Allah dalam kaum wanita.
|
|
Anak Perempuan
|
– Menerima rasa aman, kestabilan dan penerimaan dari ayah.
– Perlu menerima kasih sayang kaum pria yang mereka butuhkan, pengertian dan rasa dihargai dari ayahnya.
– Ayah memegang kunci hubungan-hubungan yang akan anak perempuan miliki di masa yang akan datang.
|
– Melihat karakter kewanitaan dan kefeniman di dalam teladan ibu.
|
Aku Ingin Seperti Ayah
Berikut ini adalah sharing dari Facebook seorang teman, yang dapat menjadi sebuah refleksi bagi kita semua :
Inilah kira-kira kisah mereka…….
Salah satu dari mereka kebetulan akan ke Bali untuk urusan bisnis, dan minta tolong diatur tiket kepulangannya melalui Surabaya karena akan singgah ke rumah anaknya yang bekerja di sana. Di situlah awal pembicaraan dimulai.
Ia mengeluh, “Susah anak saya ini, masak sih untuk bertemu bapaknya saja sulitnya bukan main.” “Kalau saya telepon dulu, pasti nanti dia akan berkata jangan datang sekarang karena masih banyak urusan. Lebih baik datang saja tiba-tiba, yang penting saya bisa lihat cucu.”
Kemudian itu ditimpali oleh rekan yang lain. “Kalau anda jarang bertemu dengan anak karena beda kota, itu masih dapat dimengerti,” katanya. “Anak saya yang tinggal satu kota saja, harus pakai perjanjian segala kalau ingin bertemu.”
“Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, karena kedua anak saya jarang berkunjung, paling-paling hanya telepon.”
Ada lagi yang berbagi kesedihannya, ketika ia dan istrinya mengengok anak laki-lakinya, yang istrinya baru melahirkan di salah satu kota di Amerika.
Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak sudah bertanya, “Kapan Ayah dan Ibu kembali ke Indonesia?” “Bayangkan! Kami menempuh perjalanan hampir dua hari, belum sempat istirahat sudah ditanya kapan pulang.”
Apa yang digambarkan adalah rasa kegetiran dan kesepian yang tengah melanda mereka di hari tua. Padahal mereka adalah para profesional yang begitu berhasil dalam kariernya.
Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, “Apakah suatu saat kita juga akan mengalami hidup seperti mereka?”
Untuk menjawab itu, marilah kita melihat syair lagu berjudul Cat’s In the Cradle karya Harry Chapin.
Beberapa cuplikan syair tersebut diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia agar relevan untuk konteks Indonesia.
CAT’s IN THE CRADLE (karya Harry Chapin)
Namun aku tahu betul ia pernah berkata, “Aku akan menjadi seperti Ayah kelak.”
“Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak.”
“Ayah, jam berapa nanti pulang?”
“Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama.”
Ketika saat anakku ulang tahun yang kesepuluh; Ia berkata, “Terima kasih atas hadiah bolanya Ayah, wah … kita bisa main bola bersama. Ajari aku bagaimana cara melempar bola.”
“Tentu saja ‘Nak, tetapi jangan sekarang, Ayah banyak pekerjaan sekarang.”
Ia hanya berkata, “Oh ….”
Ia melangkah pergi, tetapi senyumnya tidak hilang, seraya berkata, “Aku akan seperti ayahku.”
“Ya, betul aku akan sepertinya.”
“Ayah, jam berapa nanti pulang?”
“Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama.”
Suatu saat anakku pulang ke rumah dari kuliah; Begitu gagahnya ia, dan aku memanggilnya, “Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar dengan Ayah.”
Dia menengok sebentar sambil tersenyum, “Ayah, yang aku perlu sekarang adalah meminjam mobil, mana kuncinya?”
“Sampai bertemu nanti Ayah, aku ada janji dengan kawan.”
“Nak, jam berapa nanti pulang?”
“Aku tak tahu ‘Yah, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama.”
Aku sudah lama pensiun, dan anakku sudah lama pergi dari rumah. Suatu saat aku meneleponnya.
“Aku ingin bertemu denganmu, Nak.”
Ia bilang, “Tentu saja aku senang bertemu Ayah, tetapi sekarang aku tidak ada waktu. Ayah tahu, pekerjaanku begitu menyita waktu, dan anak-anak sekarang sedang flu. Tetapi senang bisa berbicara dengan Ayah, betul aku senang mendengar suara Ayah.”
Ketika ia menutup teleponnya, aku sekarang menyadari; dia tumbuh besar persis seperti aku; Ya betul, ternyata anakku persis seperti aku!
Pelatihan Spiritual bagi Anak-anak Balita
( Oleh : William & Martha Sears – Tahun-tahun Pertumbuhan )
Bagaimana caranya memperkenalkan Tuhan kepada anak-anak kita?
Jauh lebih mudah memperkenalkan Tuhan kepada anak jika kita sudah menyertakan Tuhan sejak dini dalam pernikahan kita, antara lain sebagai berikut :
1. Hubungan antara kita dengan Tuhan adalah dengan memberikan komitmen kita sendiri untuk mengikuti perintahNya.
2. Hubungan kedua adalah komitmen bersama: komitmen terhadap pasangan & setia dalam perkawinan , serta komitmen kita kepada Tuhan.
Kita mengakui Allah sebagai penasehat pernikahan tertinggi. Dari Dialah kita akan menerima kekuatan & hikmat yang diperlukan untuk bertumbuh dalam pernikahan kita.
3. Komitmen kepada Tuhan sebagai orang tua :
a. Sejak saat pembuahan, berdoalah setiap hari untuk anak yang belum lahir, memohon hikmat dari Tuhan untuk mendidiknya sesuai dengan rencanaNya.
b. Setiap hari bacakanlah Firman Tuhan keras-keras kepada bayi kita sejak dini.
c. Sekitar 15–18 bulan, tunjukkan kepada anak gambar & cerita tentang Tuhan Yesus.
Memberikan Alkitab bergambar baginya merupakan langkah yang baik untuk memulai.
Jika kita memasukkan Tuhan dalam relasi kehidupan sejak dini, kita sudah meletakkan dasar yang kuat untuk memulai konsep Tuhan secara alami kepada anak kita ketika ia berusia 2 tahun.
Kita tidak bisa memberikan anak apa yang tidak kita miliki !
MENGAJARKAN ANAK USIA 2 TAHUN TENTANG TUHAN
1. Berdoalah bagi anak kita.
Berterima kasih kepada Tuhan atas karuniaNya setiap hari.
Mintalah agar Tuhan mengawasi perkembangan anak kita & memberikan kita kebijakan untuk mendidiknya dengan cara yang benar.
2. Bernyanyi dengan anak kita.
Antara usia satu & dua tahun, bayi kita bisa meniru gerak-gerik lagu, contoh : mengangkat tangan, bertepuk tangan, melipat tangan saat berdoa.
Anak kita merasakan puji-pujian kepada Tuhan jauh sebelum mereka benar-benar memahaminya.
3. Membacakan anak tentang Tuhan.
Buku Alkitab bergambar & pelukan hangat orang tua merupakan kombinasi yang ampuh untuk mempertahankan perhatiannya.
Dengan membacakan dan menunjukkan gambar kepada anak tentang kehidupan Yesus, kita mengajarinya pesan amanat yang amat penting.
Jika kita bisa menyampaikan kepada anak usia 2 tahun pesan yang penting, bahwa Yesus adalah Orang yang Istimewa, kita telah melakukan tugas kita yakni meletakkan dasar bagi pemahaman yang lebih mendalam tentang Kristus & Tuhan secara bertahap (Ulangan 6:6).
MENGAJAR ANAK TENTANG TUHAN UNTUK USIA 3 SAMPAI 6 TAHUN
Pada dasarnya tiga tahun pendidikan rohani anak mengajarkan kepadanya bahwa Tuhan merupakan Orang yang penting.
Pada tahap usia 3–6 tahun, konsep ini diberikan selangkah lebih jauh, yaitu Tuhan itu penting karena …………….
Apa yang harus saya ajarkan kepada anak tentang Tuhan?
Bagaimana caranya?
Seberapa jauhkah pemahaman anak saya tentang Tuhan di tahap ini?
1. Sebagian besar ajaran kita dilakukan dengan cara menjadi contoh bagi anak kita.
Dasar berpikir anak usia 3–6 tahun yaitu apa yang penting bagi orang tua itulah yang penting baginya.
2. Prinsip mengulang (Ulangan 6).
Dengan teladan & pengulangan, mulailah mengajarkan tentang Tuhan kepada anak yang masih kecil.
APA YANG PERLU DIPELAJARI ANAK TENTANG TUHAN, TERUTAMA PADA USIA 3-6 TAHUN ?
1. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.“ (Ulangan 6:5)
Bagaimana mengajarkan kasih kepada anak?
– Menjadikan kasih kepada Tuhan menjadi bagian dari diri kita sendiri (Ulangan 6:6).
– Mengajarkan mengasihi Tuhan kepada anak-anak (Ulangan 11:19).
Tanamkan konsep mengasihi Tuhan pada diri anak dengan cara apa pun.
Dengan semakin mengenal Tuhan, anak akan semakin belajar mengasihiNya.
Orang tua dapat menolong anak mengenal & mengasihi Tuhan dengan menunjukkan bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu & semua orang karena Ia mengasihi manusia.
2. “Takut akan Tuhan & hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya.” (Ulangan 10:12)
Konsep mengasihi & takut akan Tuhan akan muncul beberapa kali secara bersamaan.
Takut akan mengacu pada rasa hormat dan kagum terhadap Tuhan.
Bagaimana caranya mengajarkan takut akan Tuhan?
– Biasanya anak usia 4 tahun dapat memahami bahwa Tuhan itu ‘Orang yang mahakuasa yang membuat pelbagai aturan.‘
– Anak belajar tentang Tuhan sejajar dengan cara ia belajar tentang kedua orang tuanya, yaitu mengasihi serta takut akan mereka.
– Dengan gambar Alkitab, anak dapat belajar menghormati kekuasaan Tuhan ketika ia memahami konsep dosa menurut Alkitab.
Contoh : Tuhan adalah orang yang membut aturan. Saya tidak bisa melihatnya, tetapi Ia melihat saya. Ia mengetahui bilamana saya berlaku buruk meskipun Papa & Mama tidak mengetahui; walaupun demikian Ia tetap mencintai saya.
– Anak juga belajar bahwa orang yang mengasihi juga menegakkan disiplin.
– Mengajarkan kesepuluh perintah Allah dengan sederhana & menggunakan istilah sehari-hari.
Contoh : menyembah Tuhan secara khusus pada hari Minggu, taatilah orang tuamu, berbaik hatilah kepada teman-temanmu, jangan berbohong, dll.
Dengan memperkenalkan konsep takut, dosa & aturan Tuhan kepada anak, kita meletakkan landasan bagi pembangunan hati nurani yang akan matang di tahap perkembangan berikutnya.
3. “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.“ (Markus 12:31)
Perlu diketahui bahwa :
– Salah satu tonggak utama anak usia 3–6 tahun adalah berkembangnya hubungan dengan teman sebaya.
– Pola bermain anak usia 3 tahun berubah, dari pola sejajar ke pola yang lebih kooperatif yaitu mau berbagi mainan dengan anak lain.
– Menuntut, posesif, tegas dan menyendiri, semuanya merupakan prilaku normal yang dilakukan seusia ini.
– Berebut mainan biasa terjadi.
– “Hukum rimba“ (siapa kuat dia menang) adalah prilaku yang sering terjadi.
Bagaimana caranya mengajarkan untuk mengasihi sesama?
– Apabila ia mulai bermain dengan temannya & membawa mainannya, tetapkan aturan bahwa mainan tersebut memang “miliknya” sewaktu ia bermain sendirian, tetapi waktu bermain bersama, apabila mainan tersebut diletakkannnya, anak lain boleh memegangnya dan menggunakannya.
Dari sini anak akan belajar meminjamkan mainannya dan “berbagi mainan”.
– Gunakan buku Alkitab bergambar dan tekankan bahwa ia harus mengasihi dan berbaik hati kepada semua teman bermainnya.
– Saat bermain, doronglah anak-anak untuk saling merangkul.
4. Berdoalah agar Roh Kudus memenuhi hati anak kita (Galatia 5:22–23).
Hal ini tidak terlepas dari pendisiplinan rohani bagi anak-anak kita, karena pendisiplinan rohani adalah :
– Menanamkan Firman Tuhan pada anak sedemikian rupa hingga seluruh prilakunya diarahkan oleh kekuatan di dalam dirinya yang dijanjikan Tuhan, yaitu Roh Kudus.
– Agar anak kita mewarisi kerajaan Allah dan memiliki kehidupan Kristiani yang dipenuhi Roh Kudus.
Bagaimana caranya mendoakan anak-anak agar dipenuhi Roh Kudus?
– Berdoalah setiap hari kepada Roh Kudus agar tinggal dalam diri anak kita.
Buah Roh Kudus tidak akan berkembang dalam diri anak dengan usaha mereka saja.
Semakin awal dalam kehidupan anak kita mendoakan semua sifat ini bagi anak, semakin efektif pula displin kerohanian anak kita nantinya.
– Ajarilah anak berdoa & memuji Tuhan.
Pada tahap inilah anak seharusnya tahu cara berdoa dan mengapa ia perlu berdoa.
Bagaimana mengajarkan anak berdoa?
1. Gunakan kalimat singkat & sederhana.
Orang tua sebaiknya mengajar anak untuk menambah puji-pujian, pernyataan kasih serta ucapan syukur pada doa-doanya selain permintaan.
2. Ajarilah anak mendoakan orang lain.
Kebiasaan ini membuat doa mereka tidak terlalu egois dan memberi tempat bagi persahabatan Kristiani setelah dia besar.
3. Sering-seringlah berdoa.
Sebelum tidur dan bangun tidur pada paagi hari merupakan dua saat yang penting untuk berdoa bersama anak.
Tetapi di antara kedua waktu itu ia seharusnya berdoa sesering mungkin sesuai kebutuhan atau apabila hasratnya untuk berdoa muncul.
4. Berdoa dengan spontan.
Bersikap jelilah terhadap “tanda pembuka peluang”, seperti ketika hatinya terluka waktu bermain, ketika marah tidak terkendalikan atau perilakunya sangat buruk.
Doa spontan mengajarkan kepada anak bahwa kapan pun di pagi, siang atau malam, ia dapat dan sebaiknya ia bercakap-cakap dengan Bapanya di sorga.
5. Doronglah anak agar menghafalkan ayat Alkitab.
Berikan beberapa ayat singkat yang terdiri dari satu kalimat dan acuan Alkitabnya, misalnya “Allah itu kasih” (I Yohanes 4:8).
6. Beritahu anak apabila doanya terjawab.
Ia perlu mengetahui kekuatan doa pada usia ini.
7. Biarlah anak mendengar doa-doa pujian.
Apabila ia mendengar ucapan “terima kasih, ya Tuhan” yang tulus dan “puji Tuhan”, ia akan berpikiran bahwa karena kita terus hidup bersama dengan Tuhan, ia pun ingin hidup bersama Tuhan.
8. Berilah teladan dalam doa dan ibadah keluarga.
Anak belajar berdoa ketika ia mendengar orang tuanya berdoa.
Doa membuat anak mempunyai ikatan dengan Tuhan.
Doa memberinya rasa aman karena ia bercakap dengan Seseoran gyang sangat penting yang mendengarnya.
9. Ajarkan Alkitab.
Tujuan utama mengajarkan Alkitab adalah membuat anak bersikap positif terhadap Alkitab.
Sikap positif lebih penting daripada jumlah ayat yang dihafalkannya atau jumlah kisah yang dipelajarinya.
Caranya :
– Memberi teladan.
– Ajaklah ia belajar Alkitab dengan cara yang disukai anak-anak, misalnya dengan mendongeng.
– Bermain sandiwara /drama sederhana.
– Menggunakan peristiwa-peristiwa yang terjadi, misalnya jalan-jalan di kebun atau di hutan bersama anak memberi kita beraneka peluang untuk menghubungkan Tuhan dengan alam.
– Ketika membacakan ayat atau cerita Alkitab tertentu, sebutkan intinya.
Untuk melihat, mengetahui dan memeriksa pertumbuhan rohani anak kita, secara berkala periksalah posisi anak kita apabila dikaitkan dengan tujuan–tujuan berikut ini :
1. Mengasihi Tuhan dan takut padaNya.
2. Mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri.
3. Mentaati Tuhan dan orang tua.
4. Mempraktekkan pengendalian diri.
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6)








