excellentfamily
Posts by :
New Year & New ME
1. Ambil waktu sendirian untuk berkontemplasi atau merenung. Jangan lupa untuk menyiapkan pen atau kertas untuk menulis resolusi.
2. Pikirkanlah apa saja dari diri kita yang ingin kita perbaiki?
Ada beberapa area yang dapat kita perbaiki, antara lain :
- Apa yang perlu kulakukan untuk memperbaiki kesehatanku? Berhenti merokok? Jauhi makanan tertentu? Berolahraga 2x seminggu? Minum air putih lebih banyak?
- Apa yang perlu kulakukan supaya lebih sukses dalam pekerjaanku? Membiasakan diri untuk lebih rapih dan terorganisir? Bangun lebih pagi? Mempelajari satu hal baru yang berkaitan dengan pekerjaanku?
- Apa yang perlu kulakukan supaya lebih sukses dalam study? Menambah jam belajar? Ikut kursus? Aktif dalam organisasi kampus?
- Apa yang perlu kulakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik? Lebih rajin membaca Alkitab? Ikut bergabung dalam komsel? Membaca buku-buku motivational dan pengembangan diri? Belajar untuk lebih peduli pada orang lain?
Tradisi & Museum Kenangan
- Bersama anak membuat hiasan Natal dan mendekorasi rumah.
- Membuat foto khusus Natal, yang bisa dikenang setiap tahun. Cara ini bisa digunakan untuk membangkitkan kembali memori kitaa dan keluarga. Caranya, berfoto-lah bersama seluruh keluarga di satu sisi rumah yang menyenangkan dengan pose yang lucu dan menggambarkan semangat Natal.
- Membuat kartu berisi ayat-ayat kelahiran Kristus dan digantung di pintu kamar untuk mengenang kasih Kristus.
- Membaca cerita Natal bersama dan merenungkan pengorbanan Tuhan Yesus.
- Menonton film Natal bersama.
- Mengadakan ucapan syukur di malam Natal dan membuat semboyan untuk hari berikutnya, misalnya : “Setiap hari adalah karunia Tuhan.”
- Membuat kue sendiri bersama anak-anak. Ajak anak-anak untuk ikut menghias kue-kuenya.
- Libatkan anak menyiapkan makan malam keluarga yang berbeda.
- Buatlah acara bertukar kado bersama.
- Tukar kado sekarang ini sudah banyak dilupakan orang-orang. Nah, tidak ada salahnya untuk menghidupkan kembali tradisi ini. Tak harus mahal, kita juga bisa membuat kartu Natal atau hadiah Natal kita sendiri untuk anggota keluarga
- Mengirim kartu ucapan Natal kepada kerabat dan teman-teman.
- Mengadakan kunjungan anggota keluarga lain.
- Ketika keluarga berkumpul, ambilah momen dengan video di mana setiap anggota menceritakan kesan-kesan di hari Natal tersebut. Saat keluarga menonton film pendek buatan kita sendiri, pasti akan jadi momen yang sangat menyenangkan.
- Jalan-jalan atau piknik keluarga.
Para orangtua, hargailah setiap momen yang bisa kita nikmati bersama anak-anak.
Bebas dari Kebiasaan Buruk
Tidak Ingin Seperti Papa
Terus terang pernikahan orangtua saya tidak patut dicontoh. Papa mama selalu bertengkar dan mereka bercerai saat saya remaja. Papa sering mabuk-mabukan, papa sering bicara kasar dan membentak mama serta anak-anak, papa juga suka menyalahkan mama. Saya sedih sekali dengan perceraian mereka, saya tidak ingin hal itu terjadi dalam pernikahan saya.
Bpk Elvin,
Terima kasih untuk pertanyaan Anda. Terima kasih juga untuk kejujuran Anda atas perasaan Anda terhadap diri sendiri.
Saya bisa memahami kekhawatiran Anda mengenai masa depan kehidupan pernikahan Anda. Tentunya setiap kita rindu memiliki pernikahan yang bahagia, langgeng dan sukses.
Well, ternyata pernikahan bahagia tidak dapat terjadi secara otomatis. Setelah pasangan memasuki pernikahan, maka pasangan suami-isteri perlu memiliki kekuatan dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk mewujudkannya.
Pada kenyataannya, setelah memasuki pernikahan, banyak pasangan terkejut karena menghadapi tekanan-tekanan baru. Tekanan itu bisa berasal dari luar pernikahan, dari dalam pernikahan, atau bahkan dari hal-hal yang sudah lama terpendam jauh di dalam diri mereka masing-masing. Ditambah tuntutan untuk penyesuaian diri agar hidup harmonis, untuk memberi dukungan satu sama lain, menyeimbangkan tugas-tugas karier, membesarkan anak-anak, semuanya itu menjadi kompleks.
Ada satu hal penting yang sering terlupakan oleh pasangan suami istri yaitu saat memasuki pernikahan, mereka tidak menyadari bahwa ada kemungkinan di mana pola-pola perilaku yang negatif dari orangtua tanpa sadar diwariskan dan terulang pada kehidupan keluarga pasangan baru.
Mengapa hal tersebut dapat terjadi?
Karena kita hidup bersama dengan orangtua bertahun-tahun. Kehidupan orangtua kita tonton setiap hari dan hampir setiap jam, dan kebiasaan mereka akan terekam. Maka beberapa pola kebiasaan mereka akan kita warisi, baik suka atau tidak. Pola dari orangtua akan mudah terulang kembali.
Ada contoh dalam Alkitab, di mana dalam satu generasi ada sikap pilih kasih. Seperti Abraham dan Sara lebih menyayangi Ishak daripada Ismael. Kemudian Ishak lebih sayang kepada Esau dan Ribka lebih sayang kepada Yakub (Kejadian 25:28). Selanjutnya Yakub lebih mengasihi Yusuf dibandingkan dengan saudara-saudaranya (Kejadian 37:3).
Nah, nampaknya hal itulah yang terjadi dalam kehidupan pernikahan Anda. Saat Anda mengalami tekanan atau konflik, pola komunikasi yang sama seperti papa terulang kembali. Juga cara melarikan diri dari tekanan, seperti mulai mencari minuman beralkohol.
Apabila pola tersebut tidak diatasi, maka anak-anak akan mempelajari pola yang sama dan akan terus-menerus berulang kepada generasi berikutnya.
Oleh karena itu, betapa pentingnya agar pola perilaku buruk yang diturunkan dapat kita atasi.
Bagaimana cara kita mengatasinya? Ada beberapa langkah sebagai berikut :
1. Mulailah mengingat pola atau kebiasaan negatif dari orangtua yang dapat mempengaruhi pernikahan kita saat ini.
Misalnya : cara berkomunikasi yang buruk, konflik, siapa yang lebih mendominasi, perselingkuhan, perceraian, mabuk, narkoba, dan sebagainya.
Tujuannya bukan untuk menyalahkan siapa pun, tapi supaya kita dapat memperbaiki dan terbebas dari pola keturunan ini.
Kita memang tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita bisa memperbaiki masa depan.\
2. Kita mulai menyadari adanya pola dan perilaku yang tidak ingin kita ulangi dalam pernikahan atau dalam hubungan keluarga kita. Kita perlu jujur terhadap apa yang terjadi pada diri kita.
3. Belajarlah untuk berdamai dengan masa lalu dan meminta pemulihan dari Tuhan. Artinya menyadari bahwa apabila diijinkan Tuhan dilahirkan dari keluarga yang tidak sempurna, ada pembelajaran dan makna melalui peristiwa ini. Kemudian belajarlah mengampuni orangtua yang mungkin pernah membuat hati kita kecewa, supaya hati kita pulih.
Jika kita tidak pernah memaafkan masa lalu kita, maka masa lalu tersebut akan selalu mencari celah untuk mengungkapkan dirinya di masa kini.
Hal ini bisa menjadi “bahan bakar” yang membuat pola-pola warisan terus menyala dalam hubungan-hubungan kita dan terutama dalam pernikahan.
4. Berdoa untuk mematahkan kuasa intimidasi dan kutuk kegagalan pernikahan orangtua agar tidak mempengaruhi pernikahan kita saat ini. Apabila membutuhkan bantuan untuk didoakan, dapat menghubungi hotline sekretariat.
5. Sediakan waktu untuk mempelajari kehidupan pernikahan yang berlandaskan prinsip-prinsip Kerajaan Allah dan hidupilah prinsip tersebut. Supaya pola hidup pernikahan yang salah bisa diperbaiki dan dipulihkan, sehingga kehidupan pernikahan kita semakin hari akan semakin bertumbuh.
Ingatlah ….. sementara kita tidak bisa berbuat banyak tentang nenek moyang kita, kita bisa sangat mempengaruhi keturunan kita. Tuhan Yesus memberkati !!
Kekerasan Anak & TV
excellentfamily Counseling, Parenting 0
Hal ini pernah dibuktikan di Amerika Serikat, di mana hasil penelitian menunjukkan bahwa karena terlalu banyak menonton TV, anak dapat jadi beranggapan bahwa kekerasan adalah hal yang wajar, dan bagian dari hidup sehari-hari. Dan sebagai akibatnya, mereka menjadi lebih agresif dan memiliki kecenderungan untuk memecahkan tiap persoalan dengan jalan kekerasan terhadap orang lain.
Pasanganku tidak seperti yang kuharapkan…
excellentfamily Counseling, Marriage 0
- Pasangan kita bukanlah orang yang sempurna.
- Kehidupan pernikahan adalah penyesuaian, sehingga dibutuhkan ketrampilan beradaptasi (adaptibility). Ketrampilan adaptasi diperlukan setiap hari, karena pernikahan adalah menyatunya dua pribadi dengan karakter, kebiasaan, latar belakang, respons, intelektual, emosi, jiwa, hobi, keinginan yang berbeda.
- Salah satu tujuan pernikahan adalah pertumbuhan.
- Dalam pernikahan, fokusnya bukan SAYA lagi, tapi KITA (WE).
Pasanganku berbeda keyakinan …. apa yang harus saya lakukan?
excellentfamily Counseling, Marriage 0
Saya sudah menikah selama 3 tahun. Suami saya beda agama. Memang sejak pacaran, kami sudah beda agama. Saya berpikir jika menikah, saya bisa menginjil dan mengajak suami ke gereja. Tetapi sampai hari ini, suami belum mau ke gereja. Kalau saya mengajak dia, suami selalu menolak dan akhirnya kami bertengkar. Jika bertengkar, suami saya bilang, “Kog orang Kristen sifatnya seperti itu?” Saya jadi bingung, bagaimana caranya supaya suami saya bisa bertobat dan terima Tuhan Yesus? (Eveline, 35 tahun)
Father & Son
Seorang ayah memikul tanggungjawab untuk membesarkan dan secara khusus memberikan bekal kepada anak laki-laki agar mereka bertumbuh besar menjadi seorang pria dewasa yang memang kita harapkan, khususnya yang Tuhan harapkan.
Capek dalam Pernikahan??
excellentfamily Counseling, Marriage 0
1. Buatlah keputusan untuk meningkatkan komunikasi.
2. Persiapkan waktu untuk berkomunikasi dengan pasangan.
3. Belajar untuk menjadi pendengar.
4. Sampaikan ungkapan, perasaan dan harapan secara asertif, bukan provokatif.
Perhatikanlah contoh berikut ini :
Nah, di sini kita bisa melihat perbedaan antara kedua jenis komunikasi tersebut. Materi dan tujuan pembicaraan yang sama dapat disampaikan dengan cara yang lebih baik.
5. Bersedialah mengakui dan minta maaf jika kita ada kesalahan. Bersedialah mengampuni jika ada perkataan pasangan yang mungkin menyakitkan.
6. Tetap memelihara persekutuan pribadi dengan Tuhan, agar buah roh terpancar dari kehidupan kita. Dengan demikian komunikasi kita akan memancarkan kasih, sukacita, kesabaran, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23).








